Senin, 08 Desember 2025

DHOMIR

Dhomir (الضمير) adalah kata ganti dalam bahasa Arab yang digunakan untuk menggantikan isim (kata benda) agar tidak terjadi pengulangan kata. Dhomir berfungsi untuk mewakili orang, benda, atau sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam ilmu nahwu, dhomir termasuk isim mabni, yaitu kata yang harakat akhirnya tetap dan tidak berubah meskipun posisinya dalam kalimat berbeda. Penggunaan dhomir sangat penting karena hampir selalu muncul dalam Al-Qur’an, hadits, maupun percakapan sehari-hari dalam bahasa Arab. Tanpa memahami dhomir, seseorang akan kesulitan menentukan siapa pelaku atau objek dalam suatu kalimat.

Secara umum, dhomir dibagi menjadi dua macam, yaitu dhomir munfashil dan dhomir muttashil. Dhomir munfashil adalah dhomir yang berdiri sendiri dan tidak melekat pada kata lain, contohnya: أَنَا (saya), أَنْتَ (kamu laki-laki), هُوَ (dia laki-laki), dan هُمْ (mereka). Dhomir ini biasanya digunakan sebagai mubtada’ atau sebagai penegas dalam kalimat. Sementara itu, dhomir muttashil adalah dhomir yang melekat pada isim, fi’il, atau huruf, seperti كَ (kamu), هُ (dia), dan نَا (kami). Dhomir muttashil bisa berfungsi sebagai fa’il (pelaku), maf’ul bih (objek), atau mudhaf ilaih tergantung pada kata yang dilekatinya.

Selain pembagian tersebut, dhomir juga dibedakan berdasarkan orang (mutakallim, mukhathab, dan ghaib), jumlah (mufrad, tatsniyah, dan jamak), serta jenis kelamin (mudzakkar dan muannats). Misalnya, dhomir mutakallim digunakan untuk pembicara seperti أَنَا dan نَحْنُ, dhomir mukhathab untuk lawan bicara seperti أَنْتَ dan أَنْتُمْ, sedangkan dhomir ghaib untuk orang yang dibicarakan seperti هُوَ dan هُمْ. Pemahaman pembagian ini sangat membantu dalam menerjemahkan teks Arab secara tepat dan memahami maksud kalimat dengan benar. Oleh karena itu, dhomir menjadi salah satu materi dasar yang wajib dikuasai dalam ilmu nahwu.

Selain dhomir munfashil dan muttashil, dalam bahasa Arab juga dikenal dhomir mustatir, yaitu dhomir yang tersembunyi dan tidak tampak secara tertulis dalam kalimat, tetapi dapat dipahami dari bentuk fi’ilnya. Dhomir mustatir biasanya terdapat pada fi’il madhi, mudhari’, dan amr, misalnya pada kata كَتَبَ (dia telah menulis) yang di dalamnya tersembunyi dhomir هُوَ sebagai fa’il. Dhomir mustatir terbagi menjadi dua, yaitu mustatir wajib dan mustatir jaiz. Mustatir wajib tidak boleh ditampakkan dalam bentuk dhomir munfashil, seperti pada fi’il amr (اِكْتُبْ) yang fa’ilnya adalah أَنْتَ secara tersembunyi. Sedangkan mustatir jaiz boleh ditampakkan atau tidak, seperti pada fi’il mudhari’ يَكْتُبُ yang fa’ilnya bisa dipahami sebagai هُوَ.

Pemahaman dhomir juga sangat berkaitan dengan ketepatan dalam membaca dan menerjemahkan teks Arab, terutama dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab turats. Kesalahan dalam menentukan rujukan dhomir dapat menyebabkan kesalahpahaman makna ayat atau kalimat. Oleh karena itu, seorang pelajar perlu melatih kepekaan dalam mengenali kepada siapa dhomir tersebut kembali (marja’ dhomir). Biasanya, marja’ dhomir adalah isim yang paling dekat dan sesuai dari segi jenis, jumlah, dan makna. Dengan sering berlatih membaca, mengurai i’rab, serta menghafal bentuk-bentuk dhomir, pemahaman bahasa Arab akan menjadi lebih kuat dan mendalam, sehingga memudahkan dalam memahami teks secara benar dan menyeluruh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adik adik tahfidz